Thursday, July 16, 2015

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1436 H


Kami segenap Karyawan dan Direksi Rumah Sakit Tebet mengucapkan Minal Aidin Walfaidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin. Semoga berkah Idul Fitri 2015 ini melimpahi kita semua. Amin.


Wednesday, July 15, 2015

Klinik Serebro - Kardio - Vaskuler

Apa yang dimaksud dengan Klinik Diabetes Kardioserebrovascular ?

Klinik Diabetes Kardiovascular adalah pelayanan terpadu untuk melayani penyakit - penyakit yang berkaitan dengan pembuluh darah otak, penyakit jantung koroner, dan faktor - faktor resiko yaitu Diabetes Melitus, Hipertensi, Kolesterol, dan lain - lain. 

Mengapa klinik Diabetes Kardiovascular diperlukan ?

Karena penyakit - penyakit yang dapat merusak pembuluh darah seperti Diabetes Melitus (Kencing manis / penyakit gula), hipertensi (darah tinggi), dan juga kolesterol sering muncul bersama - sama, dan sama - sama dapat menyebabkan penyakit stroke dan penyakit jantung coroner.

1. Konsultasi Ahli
- Ahli Penyakit Dalam
- Ahli Penyakit Dalam konsultan Kardiovascular
- Ahli Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah
- Ahli Gizi
- Ahli Bedah Umum
- Ahli Bedah Tulang
- Ahli Bedah Syaraf

2. Klinik perawatan kaki yang ditangani oleh Dokter Umum terlatih dan berpengalaman.

3. Penunjang Medik
- Laboratorium
- MSCT Scan
- Treadmil Test
- Echokardiografi 
- Arteriografi
- Angiologi 
- ABI Rasio 

Klinik Diabetes Kardiovascular Rumah Sakit Tebet mempunyai kegiatan antara lain : 
- Pengelolaan penyakit Diabetes Melitus 
- Pencegah dan pengobatan penyakit Jantung Koroner
- Pencegah dan pengobatan Stroke, Neuropati perifer dan gangguan ereksi
- Pencegah dan pengobatan penyakit Mata : glukoma, katarak dan gangguan retina (retinopati)
- Pencegah dan pengobatan gangguan ginjal (nefropati diabetik) dan Hemodialisa 
- Perawatan luka diabets 
- Pengobatan diabetes dengan diet 
- Edukasi Diabetes 

Mengenal Apendisitis atau Radang Usus Buntu

Apendisitis atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan radang usus buntu adalah proses radang atau inflamasi pada apendiks/ usus buntu. Dilaporkan, 7% populasi mengalami apendisitis dalam masa hidupnya. Jadi misalnya di kantor kita ada 100 karyawan, maka 7 orang dari mereka mengalami apendisitis atau radang usus buntu. Puncak insiden terjadi antara usia 10 dan 30 tahun. Insiden appendisitis di Amerika adalah 1,1 kasus per 1000 penduduk per tahun. Beberapa kasus tampak dengan faktor prediposisi keluarga. Dengan insiden appendisitis pada laki laki 1,4 kali lebih sering dari pada perempuan 

Mengapa disebut usus buntu? 

Sejarah mencatat, orang yang pertama mendeskripsikan anatomi usus buntu ialah Leonardo Da Vinci pada awal abad ke 15.Usus buntu merupakan organ seperti pipa kecil yang berujung buntu, yang berhubungan dengan pipa yang besar yakni usus besar (caecum). Anatomi usus buntu ini unik karena dengan bentuknya sangat kecil ini , usus buntu tidak berhubungan dengan usus kecil atau usus halus , melainkan berhubungan dengan usus besar. Akibat dari bentuknya seperti pipa yang sangat kecil tersebut dan menerima volume feses atau tinja yang banyak dari usus besar yang merupakan pipa yang besar, maka aliran tinja dengan tekanan tinggi dan akan masuk ke dalam lumen atau rongga usus buntu . Feses yang masuk ke dalam rongga apendiks tersebut tidak dapat keluar lagi dan tidak dapat dialirkan ke bagian usus besar lain, yang seharusnya akan dikeluarkan melalui proses Buang Air Besar. Jadi dapat kita bayangkan bahwa feses tersebut seperti memasuki jalan yang buntu. Feses yang stagnan tersebut lama kelamaan akan menjadi feses yang membatu/ fecalith yang selanjutnya akan menyumbat rongga apendiks . 

Apakah penyebabnya? 

Penyebab dari radang usus buntu ini adalah sumbatan dari rongga apendiks yang sangat kecil ini. Sumbatan tersebut bisa disebabkan oleh : fecalith (tinja yang membatu), hiperplasia jaringan limfoid submukosa, barium yang mengendap, tumor, biji-biji dari sayur atau buah yang dimakan, dan parasit usus (cacing). Dan satu lagi yang saat ini yang masih dalam penelitian ,adalah kebiasaan makan makanan pedas spicy food yakni cabai yang mengandung capsaicin dan cuka yang mengandung asam asetat. Pada observasi epidemiologi, apendisitis juga berhubungan dengan asupan makanan yang rendah serat. Sumbatan yang paling sering terjadi adalah disebabkan oleh fecalith tadi, dimana dalam fecalith banyak mengandung bakteri, bila fecalith lama mengendap dalam rongga apendiks tentunya akan menyebabkan peradangan pada usus buntu. 

Bagaimana gejalanya ? 

Gejala radang usus buntu/ apendisitis yang khas dan umum ialah, adanya rasa nyeri di perut kanan bawah yang diawali dengan adanya nyeri di ulu hati, dapat diikuti dengan demam pada keadaan yang akut dan mungkin sudah pecah. 

Apakah pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk memastikan seseorang mengalami apendisitis?

Bila didapatkan gejala tersebut diatas, maka diperlukan pemeriksaan labpratorium untuk melihat derajat infeksinya. Selain itu yang penting dilakukan ialah pemeriksaan ultrasonografi (USG) untuk menyingkirkan kemungkinan ada kelainan ginekologis pada wanita dan menyingkirkan kemungkinan adanya batu di saluran kemih bagian kanan. Selain itu untuk lebih menajamkan diagnosa dapat dilakukan foto apendiks (apendicogram) bila memungkinkan. Pada keadaan gawat darurat (cito) apendicogram tidak dianjurkan. 

Bagaimana penatalaksanaannya? 

Bila didapatkan gejala nyeri perut kanan bawah yang diawali dengan nyeri ulu hati dengan didukung dengan pemeriksaan penunjang Ultrasonografi (Usg) dan apendicogram sesuai dengan apendisitis, maka terapi yang terbaik adalah terapi bedah dengan mengangkat/ mengambil usus buntu tersebut (appendectomy). 

Bagaimana bila terjadi keterlambatan diagnosa atau keterlambatan penanganan?

Terkadang memang gejala usus buntu ini seperti gejala penyakit maag pada umumnya, yakni adanya nyeri ulu hati, yang belum tentu langsung terasa ke kanan bawah. Pada variasi letak anatomis apendiks tertentu gejala nyeri perut kanan bawah tidak didapatkan. Sehingga seringkali awalnya diterapi sebagai penyakit maag. Kita tidak dapat menyalahkan dokter yang awal menangani, karena memang gejala apendisitis ini tidak selalu khas di kanan bawah. Bila terjadi keterlambatan diagnosa dan penanganan , maka usus buntu tersebut dapat pecah dan dapat menyebabkan berbagai macam komplikasi lainnya.

Bisakah usus buntu ditangani tidak dengan terapi bedah , dengan hanya memberikan obat obatan antibiotik?

Pada beberapa pasien dengan daya tahan tubuh yang baik , gejala apendisitis dapat berkurang bahkan hilang dengan terapio antibiotic. Pada kondisi ini, setelah semua pemeriksaan penunjang dilakukan (USG , Apendicogram) ,dapat diberikan pilihan pada pasien apakah mau dioperasi saat dirawat, ataukah pasien masih mau menunda operasi di kemudian hari, dengan syarat bila didapat keluhan berulang langsung datang ke UGD RS terdekat.

Apakah pasien yang sudah ditegakkan diagnosis apendisitis dan sudah membaik dengan terapi antibiotic dapat sembuh tanpa terapi pembedahan?

Kami tidak dapat mengatakan bahwa pasien dengan diagnosis tegak apendisitis berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan penunjang , yang membaik dengan terapi antibiotic dapat sembuh sempurna. Setiap saat, tapi tidak diketahui kapan pastinya , keluhan tersebut dapat berulang/kambuh . Seperti disebutkan tadi penyebab yang paling sering adalah fecalith atau tinja yang membatu yang mengandung bakteri , akan terus diam berada dalam rongga apendiks tidak dapat keluar dari pipa yang buntu tersebut. Setiap saat kemungkinan terjadinya kembali radang pada apendiks dapat terjadi.

Apakah pasien yang sudah ditegakkan diagnosis apendisitis dan sudah membaik dengan terapi antibiotic dapat sembuh tanpa terapi pembedahan?

Kami tidak dapat mengatakan bahwa pasien dengan diagnosis tegak apendisitis berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan penunjang , yang membaik dengan terapi antibiotic dapat sembuh sempurna. Setiap saat, tapi tidak diketahui kapan pastinya , keluhan tersebut dapat berulang/kambuh . Seperti disebutkan tadi penyebab yang paling sering adalah fecalith atau tinja yang membatu yang mengandung bakteri , akan terus diam berada dalam rongga apendiks tidak dapat keluar dari pipa yang buntu tersebut. Setiap saat kemungkinan terjadinya kembali radang pada apendiks dapat terjadi. 

Ada berapa pilihan terapi bedah pada apendisitis?

Terdapat dua p[ilihan terapi bedah pada apendisitis tanpa komplikasi , yakni metode open atau operasi terbuka dengan insis di region McBurney kanan bawah dengan ukuran insisi antara 3 cm-5cm. Dan p[metode minimal invasive laparoscopy , yakni dengan inisisi di 3 titik dengan ukuran insisi masing-masing 0,5 cm- 1 cm.


Oleh : Dr. Yesaya Baringin, SpB (UNIT KAMAR BEDAH RS TEBET)









Perubahan Pola Buang Air Besar



 Bagaimana kriteria buang air besar (BAB) yang normal. 
1. Dari survey dan laporan literatur, BAB yang normal adalah 3 kali sehari sampai dengan 3 hari sekali. Dengan bentuk feses yang normal padat.
2. Bila frekuensi lebih dari 3 kali sehari, cenderung akan diare. Sedangkan bila belum BAB lebih dari 3 hari, dapat dikatakan sebagai konstipasi (sembelit). 
3. Disamping itu faktor rutinitas menjadi hal yang penting juga dalam menilai pola BAB yang normal. 
4. Kita mulai waspada bila terjadi perubahan pola BAB. Misalnya yang selama ini rutin satu kali sehari dan padat, berubah menjadi sering mencret atau menjadi sulit BAB.

Perubahan pola buang air besar 
- Perubahan dapat menjadi sering mencret atau sembelit atau berganti-ganti. 
- Sering kita menganggap atau menilai hal tersebut karena salah makan, kurang asupan serat dan sebagainya. Dapat saja hal tersebut memang yang mempengaruhi terjadi perubahan pola itu. 
- Tetapi kita harus waspada bila hal tersebut berkelanjutan. 

Apa yang harus kita sikapi bila terjadi perubahan pola BAB yang berkelanjutan. 
- Pertama. Tentu harus kita nilai apakah ada faktor keseharian yang berubah. Misalnya pola diet, situasi emosianal, dalam perjalanan jauh, tidak terbiasa dengan toilet yang tersedia dan sebagainya. - Kita harus mulai meningkatkan kewaspadaan bila perubahan pola BAB tersebut disertai "tanda bahaya". 
- Tanda bahaya yang dimaksud adalah adanya keluar darah lewat anus, terjadinya penurunan berat badan yang bermakna, menjadi anemi/pucat nyeri perut berulang, adanya riwayat dalam keluarga dengan kanker usus. 

Apa yang harus kami lakukan bila terjadi perubahan pola BAB yang mengandung tanda bahaya ?
- Tentunya akan diadakan pemeriksan yang lengkap dan bertahap. 
- Mulai dari anamenesis yang teliti, pemeriksaan fisik yang seksama, pemeriksaaan laboratorium dan pemeriksaan pennjang lainnya yang mengarah pada penentuan diagnosis pasti penyebab pola BAB tersebut.
- Salah satu pemeriksaan penunjang penting untuk hal ini adalah peneriksaan endoskopi usus besar (kolonoskopi) - Dengan tehnik pemeriksaan kolonoskopi kita akan memperoleh data objektif tentang apa yang terjadi dalam rongga usus besaryang dikaitkan dengan perubahan pola BAB tersebut. 

Apa saja hal-hal yang penting bila dikaitkan dengan perubahan pola BAB ? 
- Yang paling terkenal adalah usaha kita untuk mengidentifikasi suatu tumor usus besar, terutama pada usia 50 tahun, lebih terutama lagi bila terdapat riwayat kanker usus dalam keluarga. 
- Karena perubahan pola BAB ini dinilai sebagai gejala yang paling awal pada tumor usus besar. 
- Seperti diketahui bahwa usus besar timbul dan berkembang secara perlahan. Bila sudah terdapat perdarahan lewat anus dan penurunan berat badan, biasanya tumor sudah besar. 
- Identifikasi dini suatu tumor usus besar dan tatalaksana pengobatan yang optimal akan menghasilkan harapan/kualitas hiduop yang baik. Bahkan dapat dikatakan sama dengan harapan/kualitas hidup orang normal. 

Kesimpulan 
1. Perubahan pola BAB harus dicermati dengan baik. Dapat disebabkan oleh perubahan keseharian kita yang dapat kita koreksi. Tapi dapat juga disebabkan oleh masalah yang lebih serius. 
2. Masalah yang lebih serius ditandai "tanda bahaya" yang tadi telah disebutkan. 
3. Kolonoskopi adalah sarana penunjang baik untuk skrining maupun penentu diagnosis berbagai penyakit saluran cerna bagian bawah. 

Oleh : Dr. Dharmika Djojoningrat, SpPD KGEH (PROMKES RSTEBET)

Tuesday, July 14, 2015

Demam Anak



Temans, pada saat anak sakit, pikiran kuatir menjadi hal yang akan dialami oleh orang tua. Apalagi jika suhu anak meninggi dan demam, terlebih jika demam disertai dengan kejang-kejang. 

Demam kejang biasa terjadi pada sebagian anak. Sekitar 5% anak dari usia 6 bulan sampai 6 tahun mengalami hal ini, terutama jika orangtua memiliki riwayat kejang demam serupa sewaktu kecil. 

Kejang demam adalah kejang yang terjadi ketika seorang bayi atau anak mengalami demam yang bukan disebabkan dari infeksi sistem saraf pusat. Kejang pada anak perlu mendapat perhatian karena kejang dapat terjadi berulang kali dan membahayakan. Jika anak terlalu sering mengalami kejang demam, hal ini dapat merusak sel-sel otak pada anak.

Kejang demam pada anak dibedakan antara :
- Kejang Demam Sederhana, Yaitu kejang yang terjadi pada seluruh tubuh dengan lama waktu terjadinya kejang kurang dari 10 menit dan tidak terjadi lagi dalam kurun waktu 24 jam.
- Kejang Demam Kompleks, Yaitu kejang lokal (tidak terjadi pada seluruh tubuh) yang biasa terjadi pada area lengan dan tungkai kaki. Kejang kompleks berlangsung selama lebih dari 10 menit dan terjadi lebih dari 1 kali dalam kurun waktu 24 jam.

Tips menghadapi anak yang demam kejang :
-Tenangkan diri Anda, jangan panik,
Jika anak dalam posisi tidur telentang, miringkan tubuh anak ke salah satu sisi.
-Jangan memberikan minuman apapun pada saat anak mengalami kejang karena minuman dapat menyebabkan cairan masuk ke dalam paru-paru.
-Jika ada, berikan obat untuk meredakan kejang untuk pertolongan pertama. Obat ini biasa dimasukkan melalui dubur. Jika anak Anda pernah mengalami kejang, tanyakan pada dokter obat untuk meredakan kejang tersebut dan selalu siapkan persediaan obat di rumah.
-Bawa segera ke tempat pelayanan kesehatan seperti klinik atau rumah sakit agar dapat segera ditangani.



Jadwal Praktek Dokter UMUM dan SPESIALIS

Praktek dokter di RS Tebet buka setiap hari dari hari Senin - Sabtu jam 08.00 - 22.00 wib. Praktek dokter RS Tebet meliputi dokter umum di poliklinik maupun spesialis.


Beberapa Dokter Spesialis di RS Tebet :
Spesialis Penyakit Dalam ( Internist )
Spesialis Penyakit Saluran Pencernaan
( Gastroenterologist )
Spesialis Jantung & Pembuluh Darah
 ( Cardiologist )
Spesialis Saraf ( Neurologist )
Spesialis Mata ( Opthalmologist )
Spesialis Gizi Klinik ( Medical Nutritionist )
Spesialis Paru ( Pulmonologist )
Spesialis Anak ( Pediatrician )
Spesialis Kesehatan Jiwa ( Psychiatrist )
Spesialis Kulit dan Kelamin ( Dermato & Venerologist )
Spesialis Bedah Umum ( General Surgeon )
Spesialis Bedah Digestif / Pencernaan ( Digestive Surgeon )
Spesialis Bedah Tumor ( Oncology Surgeon )
Spesialis Bedah Urologi ( Urology Surgeon )
Spesialis Bedah Tulang ( Orthopaedic Surgeon )
Spesialis Bedah Plastik ( Plastic Surgeon )
Spesialis Bedah Anak ( Pediatric Surgeon )
Spesialis Anastesi ( Anaestesiologist )
Spesialis Kebidanan & Kandungan ( Obstetrician & Gynecologist )
Spesialis Rehabilitasi Medik ( Medician Rehabilitation Specialist
Spesialis Telinga, Hidung & Tenggorokan ( Otorhinolaryngologist )
Spesialis Radiologi ( Radiologist )

Untuk Dokter dan Klinik yang selalu ada di poliklinik RS Tebet terdiri dari :
Gigi dan Mulut ( Dentist )
Gigi Spesialis ( Orthodontist )
Bedah Mulut ( Dentist Oral Surgeon )
Klinik Edukasi Diabetes Kardiocerebrovaskular
Klinik Umum ( General Practitioner )
Instalasi Gawat Darurat ( IGD )
Ultrasonografi ( USG )
MSCT Scan
Endoskopi Saluran Pencernaan