Wednesday, July 15, 2015

Mengenal Apendisitis atau Radang Usus Buntu

Apendisitis atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan radang usus buntu adalah proses radang atau inflamasi pada apendiks/ usus buntu. Dilaporkan, 7% populasi mengalami apendisitis dalam masa hidupnya. Jadi misalnya di kantor kita ada 100 karyawan, maka 7 orang dari mereka mengalami apendisitis atau radang usus buntu. Puncak insiden terjadi antara usia 10 dan 30 tahun. Insiden appendisitis di Amerika adalah 1,1 kasus per 1000 penduduk per tahun. Beberapa kasus tampak dengan faktor prediposisi keluarga. Dengan insiden appendisitis pada laki laki 1,4 kali lebih sering dari pada perempuan 

Mengapa disebut usus buntu? 

Sejarah mencatat, orang yang pertama mendeskripsikan anatomi usus buntu ialah Leonardo Da Vinci pada awal abad ke 15.Usus buntu merupakan organ seperti pipa kecil yang berujung buntu, yang berhubungan dengan pipa yang besar yakni usus besar (caecum). Anatomi usus buntu ini unik karena dengan bentuknya sangat kecil ini , usus buntu tidak berhubungan dengan usus kecil atau usus halus , melainkan berhubungan dengan usus besar. Akibat dari bentuknya seperti pipa yang sangat kecil tersebut dan menerima volume feses atau tinja yang banyak dari usus besar yang merupakan pipa yang besar, maka aliran tinja dengan tekanan tinggi dan akan masuk ke dalam lumen atau rongga usus buntu . Feses yang masuk ke dalam rongga apendiks tersebut tidak dapat keluar lagi dan tidak dapat dialirkan ke bagian usus besar lain, yang seharusnya akan dikeluarkan melalui proses Buang Air Besar. Jadi dapat kita bayangkan bahwa feses tersebut seperti memasuki jalan yang buntu. Feses yang stagnan tersebut lama kelamaan akan menjadi feses yang membatu/ fecalith yang selanjutnya akan menyumbat rongga apendiks . 

Apakah penyebabnya? 

Penyebab dari radang usus buntu ini adalah sumbatan dari rongga apendiks yang sangat kecil ini. Sumbatan tersebut bisa disebabkan oleh : fecalith (tinja yang membatu), hiperplasia jaringan limfoid submukosa, barium yang mengendap, tumor, biji-biji dari sayur atau buah yang dimakan, dan parasit usus (cacing). Dan satu lagi yang saat ini yang masih dalam penelitian ,adalah kebiasaan makan makanan pedas spicy food yakni cabai yang mengandung capsaicin dan cuka yang mengandung asam asetat. Pada observasi epidemiologi, apendisitis juga berhubungan dengan asupan makanan yang rendah serat. Sumbatan yang paling sering terjadi adalah disebabkan oleh fecalith tadi, dimana dalam fecalith banyak mengandung bakteri, bila fecalith lama mengendap dalam rongga apendiks tentunya akan menyebabkan peradangan pada usus buntu. 

Bagaimana gejalanya ? 

Gejala radang usus buntu/ apendisitis yang khas dan umum ialah, adanya rasa nyeri di perut kanan bawah yang diawali dengan adanya nyeri di ulu hati, dapat diikuti dengan demam pada keadaan yang akut dan mungkin sudah pecah. 

Apakah pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk memastikan seseorang mengalami apendisitis?

Bila didapatkan gejala tersebut diatas, maka diperlukan pemeriksaan labpratorium untuk melihat derajat infeksinya. Selain itu yang penting dilakukan ialah pemeriksaan ultrasonografi (USG) untuk menyingkirkan kemungkinan ada kelainan ginekologis pada wanita dan menyingkirkan kemungkinan adanya batu di saluran kemih bagian kanan. Selain itu untuk lebih menajamkan diagnosa dapat dilakukan foto apendiks (apendicogram) bila memungkinkan. Pada keadaan gawat darurat (cito) apendicogram tidak dianjurkan. 

Bagaimana penatalaksanaannya? 

Bila didapatkan gejala nyeri perut kanan bawah yang diawali dengan nyeri ulu hati dengan didukung dengan pemeriksaan penunjang Ultrasonografi (Usg) dan apendicogram sesuai dengan apendisitis, maka terapi yang terbaik adalah terapi bedah dengan mengangkat/ mengambil usus buntu tersebut (appendectomy). 

Bagaimana bila terjadi keterlambatan diagnosa atau keterlambatan penanganan?

Terkadang memang gejala usus buntu ini seperti gejala penyakit maag pada umumnya, yakni adanya nyeri ulu hati, yang belum tentu langsung terasa ke kanan bawah. Pada variasi letak anatomis apendiks tertentu gejala nyeri perut kanan bawah tidak didapatkan. Sehingga seringkali awalnya diterapi sebagai penyakit maag. Kita tidak dapat menyalahkan dokter yang awal menangani, karena memang gejala apendisitis ini tidak selalu khas di kanan bawah. Bila terjadi keterlambatan diagnosa dan penanganan , maka usus buntu tersebut dapat pecah dan dapat menyebabkan berbagai macam komplikasi lainnya.

Bisakah usus buntu ditangani tidak dengan terapi bedah , dengan hanya memberikan obat obatan antibiotik?

Pada beberapa pasien dengan daya tahan tubuh yang baik , gejala apendisitis dapat berkurang bahkan hilang dengan terapio antibiotic. Pada kondisi ini, setelah semua pemeriksaan penunjang dilakukan (USG , Apendicogram) ,dapat diberikan pilihan pada pasien apakah mau dioperasi saat dirawat, ataukah pasien masih mau menunda operasi di kemudian hari, dengan syarat bila didapat keluhan berulang langsung datang ke UGD RS terdekat.

Apakah pasien yang sudah ditegakkan diagnosis apendisitis dan sudah membaik dengan terapi antibiotic dapat sembuh tanpa terapi pembedahan?

Kami tidak dapat mengatakan bahwa pasien dengan diagnosis tegak apendisitis berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan penunjang , yang membaik dengan terapi antibiotic dapat sembuh sempurna. Setiap saat, tapi tidak diketahui kapan pastinya , keluhan tersebut dapat berulang/kambuh . Seperti disebutkan tadi penyebab yang paling sering adalah fecalith atau tinja yang membatu yang mengandung bakteri , akan terus diam berada dalam rongga apendiks tidak dapat keluar dari pipa yang buntu tersebut. Setiap saat kemungkinan terjadinya kembali radang pada apendiks dapat terjadi.

Apakah pasien yang sudah ditegakkan diagnosis apendisitis dan sudah membaik dengan terapi antibiotic dapat sembuh tanpa terapi pembedahan?

Kami tidak dapat mengatakan bahwa pasien dengan diagnosis tegak apendisitis berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan penunjang , yang membaik dengan terapi antibiotic dapat sembuh sempurna. Setiap saat, tapi tidak diketahui kapan pastinya , keluhan tersebut dapat berulang/kambuh . Seperti disebutkan tadi penyebab yang paling sering adalah fecalith atau tinja yang membatu yang mengandung bakteri , akan terus diam berada dalam rongga apendiks tidak dapat keluar dari pipa yang buntu tersebut. Setiap saat kemungkinan terjadinya kembali radang pada apendiks dapat terjadi. 

Ada berapa pilihan terapi bedah pada apendisitis?

Terdapat dua p[ilihan terapi bedah pada apendisitis tanpa komplikasi , yakni metode open atau operasi terbuka dengan insis di region McBurney kanan bawah dengan ukuran insisi antara 3 cm-5cm. Dan p[metode minimal invasive laparoscopy , yakni dengan inisisi di 3 titik dengan ukuran insisi masing-masing 0,5 cm- 1 cm.


Oleh : Dr. Yesaya Baringin, SpB (UNIT KAMAR BEDAH RS TEBET)









No comments: